Bantul (MAN 4 Bantul) - Langit seni seolah memberi panggung istimewa bagi talenta muda MAN 4 Bantul. Pada Rabu (22/04/2026), Syifa Nurachma Insyiroh, siswa kelas XI F1, tampil sebagai perwakilan madrasah dalam ajang FLS3N (Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional) yang digelar di SMA Pundong.
Dengan penuh penghayatan, Syifa membawakan sebuah puisi berjudul “Jembatan”. Bukan sekadar rangkaian kata, puisi tersebut menjelma menjadi perjalanan batin yang dalam. Setiap bait yang dilantunkan mengalir seperti arus yang tenang namun menghanyutkan, membawa pendengar menyelami makna kehidupan, perjuangan, dan harapan yang terbungkus dalam bahasa yang filosofis.
Penampilannya sukses memikat perhatian dewan juri dan seluruh hadirin. Suasana ruangan sempat terasa hening, seolah setiap orang larut dalam pesan yang disampaikan. Ekspresi, intonasi, dan penghayatan Syifa berpadu harmonis, menjadikan puisi hidup di atas panggung.
Keikutsertaan Syifa dalam FLS3N ini menjadi bukti bahwa siswa MAN 4 Bantul tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki potensi besar dalam bidang seni dan sastra. Dukungan dari madrasah serta pembinaan yang berkelanjutan menjadi faktor penting dalam mengasah bakat siswa hingga mampu tampil percaya diri di tingkat kompetisi.
Bisyri Mustafa, selaku pendamping kegiatan, menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya terhadap penampilan Syifa. Ia menilai bahwa apa yang ditampilkan bukan hanya sekadar performa, tetapi sebuah penyampaian makna yang kuat.
“Syifa mampu membawakan puisi dengan penghayatan yang luar biasa. Puisi tersebut bukan hanya didengar, tetapi dirasakan. Ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu menyelami makna di dalamnya dan menyampaikannya dengan sangat baik” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia berharap pengalaman ini dapat menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus mengembangkan potensi diri, khususnya di bidang seni dan sastra.
Ajang FLS3N sendiri merupakan wadah bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas serta mengasah kemampuan di bidang seni. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepekaan rasa dan kemampuan berekspresi.
Hari itu, di panggung sederhana SMA Pundong, sebuah puisi menjelma menjadi jembatan—menghubungkan kata dengan rasa, suara dengan makna, dan seorang siswa dengan panggung prestasi yang lebih luas. (lel/ica)