Logo MAN 4 Bantul
MAN 4 BANTUL
Madrasah Istimewa
Prestasi Sebagai Tradisi
×
Menu
Logo MAN 4 Bantul
MAN 4 BANTUL
Madrasah Istimewa
Prestasi Sebagai Tradisi
Kembali ke Arsip

Pengajian Triwulan MAN 4 Bantul Perkuat Sinergi Lewat Doa Bersama

Berita MAN 4 BANTUL
Fransisca Listiariny Minggu, 15 Feb 2026 👁️ 379 kali dilihat
Pengajian Triwulan MAN 4 Bantul Perkuat Sinergi Lewat Doa Bersama

Bantul (MAN 4 Bantul) - Keluarga besar MAN 4 Bantul kembali menggelar pengajian rutin triwulan yang kali ini berlangsung hangat dan penuh makna di Rumah Makan Kebon Sumilir pada Ahad (15/02/2026). Kegiatan ini diikuti oleh guru dan pegawai bersama keluarga, dalam suasana kebersamaan yang akrab sekaligus reflektif.

Hadir sebagai pembicara, Ustadz H. Brama Aji Putra, S.Kom.I., M.M., yang menyampaikan tausiyah bertajuk Filosofi Doa “Allahumma Ubat-Ubet”. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, ia mengupas makna sholawat atau puji-pujian khas Jawa yang kerap dilantunkan di surau sebelum salat berjamaah.

Ia menjelaskan bahwa “Allahumma ubat-ubet” bukanlah doa dari teks Arab klasik, melainkan kearifan lokal dalam bahasa Jawa yang sarat pesan spiritual dan sosial. Kata ubet berarti rajin, cekatan, dan bersungguh-sungguh. Lirik “biso nyandang, biso ngliwet” dimaknai sebagai harapan terpenuhinya kebutuhan sandang dan pangan, sementara “pinaringan slamet” menjadi puncak doa, yakni keselamatan dunia dan akhirat.

Tak berhenti di situ, Ustadz Brama juga menyinggung lanjutan puji-pujian seperti “Allahumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri” dan “sugih sapi sugih pari” yang menggambarkan simbol kemakmuran dalam budaya agraris Jawa. Bebek, sapi, dan padi bukan sekadar hewan atau tanaman, melainkan metafora produktivitas, aset, dan ketahanan pangan.

“Doa ini sejatinya adalah pendidikan karakter dan finansial berbasis spiritual. Kita diajarkan untuk rajin berikhtiar, produktif, dan mandiri, namun tetap menggantungkan hasilnya kepada Allah SWT. Ubet itu kerja kerasnya, kitra-kitri itu hasil berkahnya,” ungkap Ustadz Brama.

Pengajian triwulan ini menjadi pengingat bahwa kerja dan doa bukan dua jalur terpisah, melainkan dua sayap yang membawa insan madrasah terbang menuju keberkahan. (lel/ica)