Bantul (MAN 4 Bantul) - Pembelajaran Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Jawa di MAN 4 Bantul tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga menekankan pada praktik kebudayaan secara langsung. Pada Senin (03/08/2026), para murid Kelas XI F4 diajak untuk mempraktikkan seni melipat kain batik atau yang dikenal dengan tradisi wiru jarik.
Dalam kegiatan praktik yang berlangsung interaktif di dalam kelas tersebut, murid-murid dipandu untuk memahami dan menerapkan teknik wiru jarik gaya Yogyakarta (gagrak Ngayogyakarta). Karakteristik khas dari gaya ini terletak pada bagian tepi kain (tumpal atau seret) berwarna putih yang dilipat ke arah luar sehingga tetap terlihat menonjol.
Selain teknik lipatan, para murid juga diajarkan aturan spesifik mengenai proporsi lipatan: Lebar Lipatan Pria: Sekitar 3–4 jari, Lebar Lipatan Wanita: Sekitar 2 jari (kurang lebih 3 cm). Jumlah Lipatan: Umumnya berjumlah ganjil, seperti 7 lipatan, yang memiliki filosofi mendalam sebagai simbol permohonan pitulungan (pertolongan) kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Guru Bahasa Jawa MAN 4 Bantul, Erika Wahyu, menegaskan pentingnya mengenalkan tata cara busana adat Jawa beserta makna filosofisnya kepada generasi muda sebagai langkah nyata menjaga warisan budaya. "Melalui praktik wiru jarik gagrak Ngayogyakarta ini, kami ingin mengenalkan kembali identitas dan kekayaan budaya lokal kepada para siswa. Wiru bukan sekadar melipat kain agar rapi saat dipakai, melainkan ada nilai kerapian, kedisiplinan, serta filosofi keimanan yang terkandung di dalamnya—seperti jumlah lipatan ganjil yang menyimbolkan pitulungan dari Sang Maha Kuasa. Di tengah gempuran tren modern, pemuda-pemudi kita harus bangga dan tahu bagaimana cara merawat warisan adiluhung ini. Kami berharap kegiatan ini makin menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian murid-murid MAN 4 Bantul dalam melestarikan kebudayaan Jawa agar tidak punah ditelan zaman," ungkap Erika Wahyu di sela-sela mendampingi siswa.
Suasana kelas tampak penuh antusias saat setiap murid mencoba melipat kain jarik sesuai dengan ketentuan gagrak Ngayogyakarta. Melalui pembelajaran berbasis kearifan lokal ini, MAN 4 Bantul terus berkomitmen mencetak generasi yang cerdas secara akademis sekaligus berakar kuat pada nilai-nilai budaya dan tradisi Nusantara. (lel/ica)