Nasib Kebudayaan Perak Khas Kotagede Yogyakarta di Tengah Pandemi Covid-19

Kotagede adalah nama salah satu kecamatan yang berada di wilayah Kota Yogyakarta. Kecamatan ini  terkenal dengan ciri khas kebudayaannya yang dimiliki yaitu sebagai sentra kerajinan perak terbesar yang ada di Indonesia. Namun, tidak banyak orang yang tahu sejarah kerajinan perak di Kotegede yang tidak muncul begitu saja.

Dulunya Kotagede merupakan tempat berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Raja pertamanya yaitu Panembahan Senopati. Keberadaan pengrajin perak kemudian muncul seiring perkembangannya kerajaan tersebut.

Pusat Kerajaan Mataram Islam sempat dipindahkan ke daerah Pleret. Para pengrajin perak memilih tetap memilih bertahan di Kotagede karena pangsa pasarnya lebih besar di tempat yang lama.

Namun Situasi politik yang menyebabkan pecahnya Kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian yaitu Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta berdampak pada Kotagede. Sentra kerajinan perak itu harus melayani empat keraton sekaligus, yakni Kasulatanan Ngayogyakarta, Kasunanan Surakarta, Puro Pakualaman, dan Mangkunegaran. 

Setelah masuknya Veerenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada abad ke-16 membawa pengaruh positif bagi perkembangan kerajinan perak di Kotagede. Pada saat itu, banyak pedagang VOC yang memesan alat-alat makan yang terbuat dari emas, perak, tembaga, dan kuningan kepada masyarakat setempat.  

Kerajinan perak yang semula hanya produk terbatas perlahan bertransformasi menjadi industri. Masyarakat Belanda yang tinggal di negara koloni turut andil mengubah wajah industri perak Kotagede dengan memadukan kultur barat dan timur dalam produksinya. Misal, pembuatan sendok dan garpu dari perak, serta penggunaan ornament sulur dalam kerajinan perak.

Totalitas Kotagede sebagai tempat pengrajin perak ditunjukkan dengan berdirinya Kunst Ambachtsschool atau Sekolah Seni Kerajinan Sedyaning Piwoelang Angesti Boedi yang didirikan oleh Java Institut pada tahun 1939. Dulunya, bangunan sekolah itu masih satu kompleks dengan Gedung Museum Sonobudoyo.

Dari murid-murid yang belajar disekolah itu, lahir berbagai kerajinan perak yang unik. Sayangnya, sekolah ini hanya meluluskan satu angkatan (1939-1941) karena tak lama kemudian meletuslah Perang Dunia II dimana Jepang berhasil menguasai wilayah Hindia Belanda.

Sejak tahun 1970 sampai 1980, Kotagede mengalami masa keemasan. Ratusan warga Kotagede menggantungkan hidupnya dari kerajinan perak ini. Dapat dilihat secara langsung buktinya, dengan melihat banyaknya toko-toko yang menjajakan kerajinan perak Kotagede. Kata ‘perak’dan ‘silver’ tertera di kanan-kiri Jalan Kemasan, Jalan Mondorakan, hingga Jalan Tegal-gendu yang membelah wilayah Kotagede.

Pemilik toko Mila’s Silver, Mohammad Dhofir mengungkapkan, pada saat itu, banyak wisatawan yang berkunjung ke daerah Kotagede untuk untuk membeli cendera mata khas Kotagede tersebut. Bahkan pengrajin perak di Kotagede banyak yang mengekspor produknya hingga mancanegara seperti Malaysia, Pakistan, Arab dan Romania. Mayoritas yang dipesan para pelancong dari mancanegara tersebut adalah peralatan makan dan pernak-pernik hiasan ruangan.

Selain melalui pesanan dan kunjungan secara langsung, perak khas Kotagede juga dijajakan melalui pameran. “Dulu saat perak Kotagede sedang dalam masa kejayaan, kami para pengrajin juga menjajakan perak melalui pameran kebudayaan yang diadakan diberbagai daerah Jawa maupun luar Jawa. Dalam setahun kami dapat mengikuti pameran kebudayaan paling sedikit lima kali di kota yang berbeda” papar Bowo, pemilik usaha BWB Silver.

Pengrajin Perak di Kotagede terkenal dengan produknya yang unik, halus, dan telaten dalam menggarap produk peraknya sehingga menghasilkan karya seni bernilai tinggi. Ratusan jenis kerajinan perak dihasilkan oleh Pengrajin Perak, mulai dari cincin, giwang, bros, miniatur kendaraan tradisional khas Yogyakarta, miniatur candi, dan berbagai hiasan lainnya. Tak heran jika produk kerajinan perak dari Kotagede banyak diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Namun sejak krisis moneter dan maraknya peledakan bom di Indonesia, Industri kerajinan perak kian meredup. Pengrajin yang masih bertahan tidak lagi hanya mengandalkan perak sebagai bahan baku kerajinan. Sekitar 30% diantaranya juga mulai memanfaatkan tembaga dan kuningan sebagai bahan baku alternatif.

Keterpurukan kerajinan perak Kotagede terus berlangsung hingga kini mencapai puncaknya. Setelah munculnya wabah Covid-19, dan mulai memasuki Indonesia pada awal tahun 2020 tersebut, membawa pengaruh yang besar bagi semua masyarakat Indonesia di berbagai sektor. Para pengrajin perak juga tak luput dari Covid-19 yang telah membawa banyak pengaruh bagi keberadaan kerajinan Perak di Kotagede.

Setelah adanya pandemi Covid-19, wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara tak lagi datang ke kawasan Kotagede. Hal tersebutlah yang mempengaruhi penjualan perak di Kotagede menurun dengan grafik penurunan sangat tajam. Salah satu sebab penurunannya dikarenakan oleh pemerintah telah mengambil kebijakan yaitu pembatasan mobilitas yang mengharuskan setiap orang tetap berada dirumah.

“Sejak adanya pandemi Covid-19, terutama setelah adanya PPKM, tidak ada lagi wisatawan yang berkunjung ke toko untuk membeli perak atau bahkan hanya sekedar melihat-lihat. Sekarang, kami hanya mendapat satu atau dua pesanan per minggunya melalui media sosial. Itupun yang dipesan mayoritas hanya sepasang cincin, yang mungkin akan digunakan untuk acara pernikahan. Hal tersebut membuat omset bulanan yang saya dapat menurun hingga 90% dari omset awal sebelum adanya pandemi Covid-19,” ungkap Ade, pemilik Nur Parwanto’s Silver.

Bagi mereka yang memiliki ide kreatif agar penjualan perak khas Kotagede terus berjalan, maka toko mereka akan bertahan di tangah pandemi. Sayangnya tak sedikit dari mereka yang memilih untuk menutup usaha peraknya dan beralih ke profesi lain. Hal tersebut membuat kilau perak Kotagede kini kian meredup. Dulunya kilau perak selalu memanjakan mata setiap orang yang melewati sepanjang jalan Kotagede namun kini hanya terlihat toko-toko yang terlihat tutup dan bahkan telah beralih menjadi usaha lain. Kini keberadaan perak khas Kotagede yang tersisa terancam punah dengan seiring berjalannya waktu.

Dalam mengatasi masalah tersebut sebaiknya perlu diadakan program pelestarian serta dukungan dari berbagai pihak agar perak khas Kotagede tersebut tidak punah. Pemerintah perlu turun tangan untuk membantu promosi serta memanfaatkan perak sebagai konsumsi pemerintah dalam membangun daerah. Banyaknya pengrajin yang masih mengelola perak dengan cara tradisional, maka pemerintah juga perlu memberikan pelatihan tentang inovasi produksi serta pemasarannya terlebih promosi kreatif secara online.

Masyarakat juga dapat andil dalam menjaga kelestarian perak Kotagede dengan cara membeli perak untuk kebutuhan rumah tangga, hiasan, atau hadiah untuk orang lain. Masyarakat juga dapat turut mempromosikan perak Kotagede lewat sosial media sebagai warisan kebudayaan dengan cara yang menarik. Karena semua yang ada di Yogyakarta itu unik dan dapat menjadi konten media sosial.

Tidak kalah penting yaitu mengenalkan perak sebagai warisan budaya yang menarik kepada generasi muda. Salah satu caranya yaitu wajah perak di Kotagede harus berbenah atau berinovasi. Kerajinan perak juga perlu dikenalkan di sekolah-sekolah khususnya yang berada di Yogyakarta. Selain itu mendirikan sekolah atau pelatihan seni perak juga dapat menjadi solusi agar warisan budaya ini tidak punah.

Pada akhirnya tidak ada yang ingin warisan budaya yang berupa kerajian perak di Kotagede punah begitu saja. Budaya merupakan warisan leluhur yang tak ternilai sehingga para pemuda perlu menjaganya dengan baik. Negara hebat adalah negara yang dapat mempertahankan budaya yang baik dan membuat budaya baru yang lebih baik.

 Penulis: Mulisa Kusuma Wardani 10 MIPA 1


(Dody/Dody/2021-08-29 21:41:25)

Man-4 Bantul

-

Selamat Datang di MAN 4 BANTUL

(MANEMBAYO)

Madrasah Istimewa

Alamat :

Jalan Majapahit (Lingkar Timur), Pranti, Banguntapan, Bantul 55198,

Telpon (0274) 452188

 

Peta Lokasi MAN 4 Bantul Yogyakarta